HAUS
Kringg…
Bel istirahat pertama berkicau.
Untunglah, Bu Feni menyadarinya. Aku sudah cukup suntuk mendengar semua
penjelasan tadi. Semua berkata bahwa ini sudah eranya Student Centre Learning.
Mana buktinya? Tetap saja semua guru menerangkan pada muridnya di dalam kelas dengan
kutipan yang sama dengan buku. Lalu apa gunanya sekolah kalau aku bisa belajar
di rumah? Ah, sudahlah. Ini sudah jalan takdirku. Kalaupun aku ingin complain,
pada siapa? Takkan ada yang mau mendengarkanku.
Pukul 09.53. Aku melihat satu-persatu
teman sekelasku meninggalkan meja. Beberapa cewek rajin mengambil tas tempat
mukena lalu beranjak ke masjid di sebelah barat kelasku. Sedangkan yang cowok,
beberapa masih sibuk dengan laptopnya, dan mereka yang lebih rajin telah siap
memulai ritualnya di masjid. Well, aku bilang siap karena aku ada di sebelah
jendela paling barat. Aku bisa melihat siapa saja beserta apa saja yang mereka
lakukan di masjid. Aku tak bilang aku sedang apa? Hm… Sejujurnya aku sedang
malas ke masjid. Ya Allah, maafkan aku. Mungkin aku sedang ingin menyantap
beberapa makanan ringan. Tapi, nggak asyik tentunya ke kantin sendiri.
“Ada yang mau ke kantin ga?”
teriakku di dalam kelas yang masih menyisakan 6 penghuni. Tak ada yang
menjawab. 2 orang cowok di belakang , Dewa dan Yogo, masih menikmati
aktivitasnya, Vega sedang membaca novel Incest di belakang kelas, Ghea, Bela,
dan Jihan masih terlihat mengatur gaya di depan laptop Ghea. Aku memutar bola
mata. How egoist! Arrgh! Aku terus mengumpat dalam hati.
“Yok ke kantin, Go!” ajak Dewa.
Yogo beranjak dari kursinya dan mengikuti Dewa. Well, mereka berdua selalu
bersama, membuatku iri sebetulnya. Aku ingin ada seseorang yang mau sedia
menemaniku ke kantin. Masalah sekecil ini aku pikirkan? Hey, aku merasakan ini
tiap hari! Melihat dua cowok maho ini berjalan ke kantin layaknya sahabat. Ya,
aku memang menginginkan seorang sahabat. Terserahlah! Aku kehilangan mood untuk
makan, bahkan aku malas berjalan.
Aku terus menghadap laptop,
mengutak-atik tiap bagian yang menurutku kurang beres. Meskipun semua sedang
terlihat tidak beres di mataku. Apalagi kalau bukan karena Duo Dewa Yogo!
Sampai bel berbunyi pun aku tak beranjak. Kelasku kembali terisi. Namun,
sepertinya Pak Winoto akan terlambat. Selagi ada laptop, aku tak ambil pusing masalah
jam kosong atau sekedar menunggu kedatangan guru.
“Des, ntar jam 7 main ya!” teriak
Dimas pada Desinta.
“Tugas numpuk, bro. Yakin punyamu
bisa selesai?” timpalnya.
“Ah, kalo ga bisa besok nanya ke
temen-temen lah. Rempong,” kata Dimas santai.
“Iya deh,” akhirnya Desinta
menyerah. Mereka membicarakan Game Online yang saat ini memang marak di
Indonesia. Entah aku lupa namanya. Hash, nggak penting! Terserah mereka mau
main tiap hari juga bukan urusanku! Siapa aku?
Ngurusin barang ga penting bernama game online? Kurang kerjaan banget!
“Hahahahaha…”
Terdengar tawa dari belakang.
Dewa, Bela, dan Yogo sedang bercanda. His. Bikin risih aja!
“Karina, PR Bahasa Inggris udah?”
Tanyaku untuk mengalihkan perhatianku sendiri.
“Belom,” jawab Karina tanpa
mengalihkan pandangan dari si Acer hitam. Aku berbalik ke posisi semula. Well,
Karina duduk di belakangku. Bodohnya! Kenapa aku bertanya pada Karina? Sudah
jelas ia bocah cuek. Hal ini malah memperburuk moodku. Aargh!
Hingga sore, semakin banyak
kejadian yang memperburuk moodku. Dari Hendra, Sesil, dan Bela yang nggosip
bersama, Dimas dan Desinta yang terus-terusan bareng, Yogo, Dewa, dan Bela yang
kelihatan asyik terus bikin emosi semua. Gobloknya aku! Kenapa juga peduli pada
kegiatan dan aktivitas orang lain? Entah sejak kapan aku jadi sensitif pada omongan
orang. Setiap perkataan yang kudengar terekam di otakku. Sedikit saja mengusik
keseimbangan moodku, rasanya ingin sekali aku menghilang, hingga tersisa aku
dan ketenangan.
Seharian ini moodku ancur, semua
aktivitas temen-temen sekelas, semua perkataan yang keluar dari mulut mereka,
semua udah ngerusak syarafku, ngerusak hari yang seharusnya jadi baik. Well,
aku punya target kalau semester satu ini harus di tujuh besar. Aku nggak mau
ada yang ngerusak rencana ini. Aku mau semua kelihatan baik dan sempurna,
seperti yang aku mau. Susah memang. Teperti teman-temanku sekelas, aku nggak
mungkin ngatur mereka. Nggak ada hak. Kenyataan ini bikin aku tambah jengkel.
Kenapa juga aku harus ngerasa begini? Aku nyadar kalau aku harus sosial juga di
kelas. Fine, aku udah coba. Tapi semua sering nggak terlaksana dengan baik karena
moodku yang berantakan. Jadi males berbuat apa-apa. Terserahlah!
Aku turun dari sepeda motor,
berjalan gontai menuju kamar. Meletakkan
tas di atas kasur, melepas dua benda berbau dari kakiku, lalu membaringkan
tubuh di atas sprei orange bergambar beruang. Aku terus menatap langit-langit
kamar. Mengingat apa-apa saja yang aku lakukan hari ini. Me-list semua tugas di
otakku, hingga tiba pada ingatan tak menyenangkan tentang para manusia pengusik
ketenangan. Kau tau? Semua itu bermula dari rasa iri. Aku ingin punya teman
yang asyik seperti Yogo dan Dewa, aku ingin ada teman yang selalu merasa
membutuhkanku seperti Dimas dan Desinta, aku ingin ada teman yang selalu
memberikan pengalamannya padaku seperti Hendra, Sesil, dan lainnya. Aku ingin
seorang teman yang bisa mengerti apa mauku! Kenapa bukan aku yang
mendapatkannya? Kenapa harus teman-temanku sekelas menunjukkan hal-hal memuakkan
padaku! Aku butuh seorang teman! Aku haus akan indahnya pertemanan!
Oke, sudah seharusnya kau tau
tentang Helena. Dia sahabatku yang pindah ke Bandung dan telah melupakanku. Ia
memang tak pernah berkata bahwa ia melupakanku. Tapi, ia tak butuh aku lagi.
Sejak ada Melly, teman barunya di Bandung, kenapa dia butuh aku yang berada 150
km dari posisinya? Dari Facebook Helena, aku melihat aktivitasnya. Ia sudah
mengalami hal-hal indah bersama Melly. Bahkan, hal-hal yang tidak pernah kami
lakukan bersama. Mereka liburan bersama, juga menginap di rumah satu sama lain.
Hal-hal yang tak mungkin aku dapatkan! Bahkan terakhir aku mendengar kabarnya
yaitu 3 bulan lalu, melalui sms. Ia hanya menanyakan kabarku. Itu saja. Aku tak
ingin lagi berharap pada Helena. Cukup! Dia tak butuh aku lagi. Persahabatan
kami usai!
Malam ini, aku bertekad
menyelesaikan semua tugasku. Tak peduli meski aku satu-satunya penghuni rumah
yang belum bersiap mendengkur, tak peduli aku sedang dalam mood baik atau buruk
tugas ini harus selesai. Meski aku yakin ini akan membutuhkan waktu lama, tak
ada alasan bagiku untuk tak mengerjakannya kecuali aku ingin mendapatkan nilai
0 pada kolom tugas di rapot semester pertamaku SMA.
Sudah 2 jam aku mengerjakan
tugas, masih ada satu tugas yang masih dalam proses. Merasa bosan, aku membuka
facebook. Terlihat teman curhatku dulu, Reno, sedang online. Aku putuskan untuk
tidak menutup tab facebook. Berharap melihat pemberitahuan chat dari Reno. Aku
biasa curhat pada Reno melalui facebook dan sms. Namun, sejak pindah ke SMA
kami sudah tak pernah berinteraksi. Lingkungannya sudah baru, dan ia
menikmatinya. Aku menikmati lingkunganku yang baru diiringi dengan penyakit
aneh bernama iri.
Setelah satu jam aku online, tak
ada tanda apapun. Begitu aku lihat, Foto Reno sudah menghilang dari bagian
Online Friendsku. I’m just a junk! Nobody needs me! Aku tersenyum sinis pada
diriku sendiri. Kenapa aku harus menjadi orang yang kehilangan setiap tetes
persahabatan di masa tergenting dalam hidupnya? Semua orang bilang bahwa masa
remaja adalah masa teraneh dan penuh dengan masalah. Kenapa semua sahabatku
diberikan ketika aku belum mengalami masa ini? Kenapa teman-temanku malah
dipertemukan dengan orang-orang yang mereka butuhkan dan membutuhkan mereka?
Kenapa bukan aku saja? Kami sama-sama menghadapi masa yang sama, tapi aku tak
dikaruniai teman seperti mereka. Apa yang salah?
Aku hanya terus termenung, tak ada niatan lagi menyentuh tugas-tugasku. Persetan dengan rapot! Apa yang bisa aku lakukan di tengah kesendirian dengan keadaan seperti ini? Mungkin kau akan bilang bahwa aku lupa bersyukur. Sudah kucoba. Aku mencoba mensyukuri kesehatanku, kelengkapan tubuhku, keberadaan kedua orang tua beserta sanak keluargaku. Tapi hal pertemanan ini lain. Aku mencoba bersyukur sudah mengenal mereka, keluarga baruku yang akan berjuang bersamaku selama 3 tahun ke depan. Tapi dalam proses ini, keras. Mungkin mereka tidak terlalu mendesakku secara akademis. Tapi mereka semua telah menusukku pelan-pelan secara mental. Apa aku terlalu lemah? Terlalu egois? Terlalu banyak menuntut? Aku tak mau menghargai orang lain? Hey, tidakkah seorang anak kecil iri terhadap temannya yang membawa lollipop ketika lolipopnya baru saja terjatuh dalam keadaan utuh belum terkena liurnya sedikitpun? Pasti. Well, aku bukan anak kecil, aku sudah SMA. Kehidupan SMA jauh lebih rumit dari pada sebuah benda bulat berwarna-warni bernama lollipop. Jika seorang anak kecil bisa menangis karena iri pada lollipop, kenapa seorang remaja tidak bisa menangis karena rasa haus akan persahabatan?
“Aaagh…” aku berteriak sambil
mengacak-acak rambut. Entahlah! Benih-benih racun yang ditaburkan orang-orang
tumbuh semakin subur. Meski hampir tiap malam aku mengalami hal ini, aku tetap
tak bisa membuangnya. Tiap malam aku membiarkan rasa itu mendekap di bagian
terpojok hatiku, membiarkan mereka mendapatkan pupuk dan air ketidakpuasan tiap
hari. Meski aku bersikap tak peduli pada mereka, otakku terus bekerja,
memproses setiap kejadian yang aku rasakan. Tapi kenapa aku yang harus
merasakan ini? Kenapa mereka tak juga merasakan barang sedikit tanda tentang
ketidaknyamananku pada mereka? Kenapa mereka tak juga memberikan barang sedikit
taburan persahabatan yang bisa aku rasa?
Kegelapan… Kesendirian… Kekhawatiran…
Semua semakin menyelimuti jiwaku. Segelap dan sesunyi malam ini, hatiku semakin
hampa, kosong. Aku takut semua ini berubah menjadi kebencian. Tapi, aku tak
siap menghadapi konsekuensi dari kebencian. Aku tak ingin membenci keluargaku,
saudara-saudaraku. Perasaan ini harus kubuang, kuakhiri. Tapi aku merasa semakin
putus asa. Bagaimana aku mengakhiri semua ini?
Akulah kunci dari semua ini. Aku
sendiri yang menyebabkan hal ini, aku juga yang merasakannya sendiri. Tak ada
pilihan lain selain membuangnya sendiri. Aku terlalu takut untuk
menceritakannya pada orang lain, terlalu banyak berpikiran negatif untuk berani
mempercayai orang lain, terlalu kotor untuk dibagi persahabatan. Sekarang.
Bukan nanti.
Tidakkah aku ingat bahwa Dia
selalu ada? Astagfirullah hal adzim. Salahku yang melupakan-Nya. Setelah selama
ini, baru aku sadar bahwa aku melupakan satu tempat teraman untuk bercerita. Betapa bodohnya aku, Ya Rabb. Maafkan aku.
Aku berjalan pelan menuju kamar
mandi, membasuh wajah, tangan, beserta kakiku. Berusaha membersihkan diri
beserta hatiku. Berharap air dingin malam ini mampu membekukan racun-racun
dalam jiwaku dan membawa semua itu mengalir menjauh bersamanya.
Aku siap menebus semua salahku.
Kukenakan mukena putih berbordir bunga hijau muda. Menatap ke bawah, sajadah
biru bergambar Tanah Suci di bagian atasnya.
Memulai komunikasi dengan Yang Kuasa. Bertahan di tengah ketenangan.
Berusaha mengusir segala hal yang mengusikku selama ini.
Kupanjatkan doa pada-Nya,
diiringi isakan yang sukar kuhentikan. Dari dalam hati, aku meminta petunjuk ,
ampunan, dan lindungan-Nya. Aku tak ingin tersiksa sendirian seperti ini.
Mungkin selama ini, aku belum cukup kuat menahan serangan syaitan yang berusaha
menembus jiwaku. Aku pasrahkah semua pada-Nya. Sudah cukup syaitan-syaitan itu
membuat lubang di hatiku.
Merasa cukup lega, aku beranjak. Mungkin
sebaiknya aku mengistirahatkan tubuhku. Sudah cukup otak dan
syarafku merasakan
banyak rasa sakit. Semoga langkahku kali
ini bisa membunuh semua perasaan iri itu.
Menu start, icon lock, shut down.
Aku mencabut charger dari stop kontak. Meninggalkan laptopku yang masih dalam
proses beristirahat di meja belajar. Aku akan menyusul, aku juga ingin
beristirahat. Aku segera berbaring, menutup tubuhku hingga bagian leher dengan
bed cover orange yang termasuk satu set dengan spreiku. Aku memeluk guling,
menghadap ke arah kanan, mencoba memejamkan mata.
Tiba-tiba…
Desperate….
Desperate…
You’re reaching out
And no one hears you cry
You’re freakin’ out again
Cause all your fears remind
you
Another dream...
Hening. Aku tau, itu pasti sms. Tapi
aku tak ingin melihatnya. Terserah. Aku lelah memelihara perasaan memuakkan
ini. I only want to be refreshed. Siapapun itu, apapun yang ia mau biarkan aku
sembuh dahulu.
Semakin larut, semakin dingin,
semakin aku ingin segera sembuh. Tak bisa lagi kutahan. Air mataku kembali meleleh.
Kupastikan jiwaku bersih ketika
terbangun.
“Cip.. Cip..” samar-samar aku
mendengar suara burung. Aku membuka mataku perlahan. Sesegera mungkin aku
mengambil air wudhu, menunaikan ibadah wajib pagiku.
Ketika kembali ke kamar, baru aku
memegang Hpku. Terlihat fotoku dan Helena yang sudah lama kujadikan wallpaper
Hp. Aku tersenyum tanpa memikirkan apapun. Mungkin ia masih sahabatku. Aku
berani membangun sedikit harapan. Meski aku tak begitu yakin. Aku menekan
tombol menu, kemudian memasuki menu pesan, menekan tombol kotak masuk.
|
“Hhh…” aku mendesah.
Tak berapa lama, isakan itu
terdengar lagi.
Komentar
Posting Komentar