When Hero Had To Go
Halo, readers…
Sebelumnya saya ucapkan Selamat Hari Pahlawan. Jadikan Hari Pahlawan sebagai awal Kebangkitan Jiwa Muda Indonesia! #Slogan gajelas
Well, aku nulis post ini untuk memperingati Hari Pahlawan bagi seluruh Indonesia dan bagi keluargaku khususnya. Karena ada sesuatu yang terjadi pada tanggal ini satu tahun yang lalu. It was the first most unforgettable thrilling day in my life.
Last year,
Di SMP Negeri 1 Kediri, aku masih nyantai main-main sama temen sekelasku yang emang suka banget pulang agak telat. Sebenernya waktu itu kami pulang pagi, soalnya agenda hari itu cuma Upacara Peringatan Hari Pahlawan. Tapi karena masih enak main and ngerumpi, pulangnya molor deh. Lama-lama temen sekelasku abis, pada pulang. Pada akhirnya, tinggal aku, sendiri. So, untuk mencari sedikit keramaian, aku ngeluntrung ke gerbang depan sambil bawa tas. Di depan emang lebih rame, soalnya kendaraan pada lalu lalang, para penghuni Spenesa pada kaya walang, aku hanya duduk diam di dekat palang #rima yang mekso. Actually, aku duduk di tangga kecil hitam yang cuma punya 3 steps di bagian barat gerbang. Aku duduk di tangga yang depan, menghadap jalan raya, melihat sekeliling. Yang ada cuma beberapa becak beserta Pak Becaknya, rombong beserta penjualnya, dan jiwa-jiwa yang berjalan tanpa arah tujuan #yang saya maksud adalah orang lewat. Aku putuskan buat SMS ibuku minta dijemput. Beberapa menit kemudian, ada SMS balesan dari ibuku. Katanya aku dijemput sama Om Hud. Selama nungguin Om, aku ngerencanain apa aja yang bakal aku lakuin begitu nyampe rumah. Well, aku mau ngerjain tugas Biologi, latihan soal, dan blablabla. Sayangnya, perencanaan di otakku masih lebih cepat daripada kecepatan Omku nyampe di SMP 1. It means Omku lama banget. Aku putuskan untuk tetap menunggu dengan sabar sambil majang senyum se-innocent mungkin tiap ada orang lewat #semoga saya ga dikira gila.
Then, seonggok raga menghampiriku. Dan dia adalah Dek Grace, adek kelas yang udah sampe sabuk hitam Taekwondo. Chit-chat pun berjalan selama beberapa menit. Tiba-tiba, ada strange voice nanya ke Dek Grace, “Tau yang namanya Asa nggak?” Si Grace majang wajah heran + kaget + aneh. Aku melirik ke asal suara. Ternyata itu Om saya. -_- Beneran deh, Omku gaje. Padahal udah tau kalo aku disampingnya, eh malah nanya ga jelas ke adek kelas. Yang pasti, aku ga nunda waktu lagi, pamit ke Grace, jalan menuju mobil Om, and sat down. Then, kami jemput adekku yang ada di SMPN 4 Kediri. Everything was alright n I kept thinking ‘bout my plans. But, di daerah Soekarno Hatta (Kabupaten Kediri) Omku bilang, “Lapar nggak? Makan dulu ya!” Aku dan adekku hanya mengiyakan. Then, mobil berbelok ke Bakso Mama Cabang Soekarno Hatta.
Makan selesai. Meluncur pulang… Tapi gatau kenapa rasanya aneh. Aku mikir, “Kenapa yang jemput bukan Ibukku? Omku kan sibuk juga, ngapain juga jemput aku? Hmm… Kerepotan apa yang dimiliki ibukku sehingga mengalihkan tugas hariannya pada Omku ini?” I kept thinking and thinking and thinking. Beberapa meter dari rumahku, Omku tiba-tiba ngebahas masalah takdir dan peran manusia. Ha? Dari mana topik ini berasal? Perasaan tadi ga ngomongin hal serius kaya gini deh. Jeg! Tiba-tiba ada rasa ga enak di hatiku. Waktu masuk gang, dilihatin orang, rasanya aneh, padahal mereka tetanggaku. Mestinya aku biasa aja ya… Then, sampe di depan rumah. Aku cepet turun dari mobil, dorong pintu garasi. Pintunya ke kunci. Akhirnya Omku bilang kalo kakekku barusan meninggal. Glaar! Feelingku bener. Ada yang ga beres.
Omku pergi ke rumah kakek nenekku buat ambil kunci rumah di ibukku. Waktu kuncinya dateng, langsung aku buka pintu. Naik tangga, lari ke kamar, tutup pintu, kunci, nangis. Aku lupa apa aja yang waktu itu aku pikirin. It was just unimagined. Gatau berapa lama aku nangis. Tiba-tiba ada yang ngetuk pintu kamarku. Padahal, jarang-jarang ada yang mau naik kalo ga penting banget. Then, aku buka pintunya. Ternyata nenekku (dari Ayah). Aku diceramahin, katanya ini terakhir kalinya aku bisa ketemu kakekku. Soalnya sorenya mau langsung dibawa ke pemakaman. Sebenernya aku udah berniat buat ga kesana, tapi it would be unfair. Cz since 2 days ago, he was hospitalized. He got an accident, and I didn’t visit him at all. I didn’t like sadness. It would be so hard for me to return my spirit after facing sadness. I was afraid that I wouldn’t be strong enough to face it. But, this is the last. I wouldn’t meet him anymore. Apakah aku bakal stay being happy tanpa ngeliat kesedihan anggota keluargaku yang lain? Then, I would be the worst. Aku nggak mau dianggap ga baik, aku ga mau menyesal nantinya. So aku putuskan ikut ke rumah duka, rumah kakek nenek.
Di sepanjang jalan, aku diliatin. Aku pake baju casual kaya di rumah, jalan dengan lemahnya, diiringi tetesan air mata yang nggak mau kering. Tiap hampir kering, pasti ada ganti air mata yang baru. Rasanya aneh banget, aku ga peduli dengan tanggapan orang ngelihat aku dalam kondisi kuyu sambil berlinang air mata. Tapi yang aku pikirin tatapan mereka, apakah itu tatapan kasihan? Tatapan yang diberikan pada keluarga yang ditinggalkan? Well, aku simpulkan sendiri, aku dikasihani.
Sampe di rumah kakek nenek, aku ke ruang tengah, orang-orang pada ngumpul di atas ranjang, coba nenangin nenekku. Tiba-tiba ibukku meluk aku. Ini langka, jarang-jarang ibuku meluk aku, mungkin hampir ga pernah. Tapi dalam keadaan ini, aku harus tegar, lebih tegar dari ibuku kalau bisa. Karena pasti rasanya unbelievable banget kehilangan seorang bapak. Aku bisa tenang for some minutes. Tapi, aku cewek, hatiku rapuh, susah rasanya menghentikan air mata ketika melihat seorang pria yang kuat, yang memberikan seluruh tenaganya untuk masa depan dan kebaikan ibu yang melahirkanmu terbaring tanpa jiwa. Pria yang biasanya keluar dari kamar mandi dengan senyum yang khas dan menanyakan kabar atau sekolahmu sambil menenteng handuk, sekarang tidur pulas dan tak bisa lagi membersihkan dirinya sendiri atau sekedar mengelap tubuh yang basah. Rasanya sungguh beda. Jauh beda.
Setelah dimandikan, dikafani, disholati. At last, beliau dimasukkan ke keranda yang diselimuti kain hijau dengan tulisan arab diatasnya. Beberapa rangkaian bunga yang khas di acara pemakaman ikut menghiasi keranda. Aku hampir ga mau ikut ke pemakaman, tapi aku masih mau dekat kakek sebentar. Then aku ngikutin dari belakang, tapi karena ngerasa sepi aku lari ke depan nyusul ibuku. Aku diam sepanjang perjalanan. Sampe di pemakaman, aku masih diam, cuma melihat setiap hal yang dilakukan orang-orang yang mengurus makam kakekku. Semua selesai, nisan dipasang. Orang-orang mulai berkurang, pulang. Aku dan ibuku di belakang hampir akhir. Sulit meninggalkan seseorang yang kami sayangi di tempat itu, selamanya. “Bye, Grandpa…”
Kakek pergi pada Hari Pahlawan yang menandakan besarnya jasa kakek untuk semua orang. Terutama jasa kakek untuk keluarga kita yang benar-benar tak terhitung. Kek, you are the best grandpa ever. Kalau aku ulangan Bahasa Jawa, apalagi bab wayang, ga ada yang bisa bantu aku selain kakek. Nemenin aku kalo dirumah sendirian, ga ada kalo bukan kakek. Ibu bilang, kakek pergi ga lupa ninggalin sesuatu, selain kenangan, kakek beri kami sikap bertanggung jawab, kerja keras dan pantang menyerah. Cuma untuk satu alasan, KELUARGA. You’re just the best for us. THANK YOU FOR BEING A HERO.
Komentar
Posting Komentar